“Kita belum merdeka”
Jerit lantang menuntut kebebasan
”Kita masih dijajah”
Bukti dari ketakmampuan membasmi penjajah
”Kita belum merdeka”
Kenyataannya masih bergantung pada negara adidaya
”Kita masih dijajah”
Kapitalisme menyergap di mana-mana
”Kita belum merdeka”
Berdiri sendiri tak mampu menyangga
”Kita masih dijajah”
Pikiran busuk mengotak menghancurkan idealis bangsa
”Kita belum merdeka”
Senjata, sepeda motor, mobil, dan beras masih impor dari negara tetangga
”Kita masih dijajah”
Utang luar negeri menggelembung besarnya
”Kita belum merdeka”
Memperjuangkan sesama saudara kita saja masih ogah
”Kita masih dijajah”
Mass media dan telekomunikasi masih ditumpangi unsur perusak budaya
”Kita belum merdeka”
Hasil bumi dan kekayaan lainnya diangkut ke negeri entah berantah
”Kita masih dijajah”
Sego pecel, soto, kare, gudeg digusur hamburger, fast food dan kawannya
”Kita belum merdeka”
Orang-orang pintar di negeri tak dapat tempat untuk berkreasi
”Kita masih dijajah”
Kaum pengeruk hasil bumi memberikan komisi 10 persen saja
Besar di mata kita, kecil di mata mereka
”Kita belum merdeka”
Wakil rakyat masih bertinju ria di ring gedung DPR/MPR
”Kita masih dijajah”
Dakon, gobak sodor, layang-layang digempur video game dan komplotannya
”Kita belum merdeka”
Makan saja masih meminta-minta
”Kita masih dijajah”
Negara-negara yang melirik kita sebagai kue ulang tahun
”Kita belum merdeka”
Negara-negara sekitar mematai dan bersiap menerkam
”Kita masih dijajah dan belum merdeka”
Dua ungkapan yang semestinya disandang negeri
Surabaya, 17 Agustus 2008