Elegi Pernikahan Lara
Perlahan Lara membuka kedua kelopak matanya. Silau cahaya memancar dari segala arah. Ia memicingkan matanya, mengintai ruangan ruangan serba putih dengan pandangan kabur. Kemudian ia memejamkan matanya – satu dua detik. Ah, ia merasakan sakit menyerang kepalanya. Dibuka kembali pandangannya, cahaya masih memenuhi ruangan serba putih ini. Dimana aku? Apa aku sudah mati? Pikirannya penuh dengan tanda tanya. Berangsur-angsur pandangannya mulai jelas. Bayangan matanya menangkap sosok perempuan setengah baya tengah menghampirinya.
“Ibu,” ucap Lara pelan, suaranya hampir tidak terdengar.
Perempuan dengan kebaya modern warna coklat dan rambut bersanggul itu menyeringai lebar ke arah putrinya, “Syukurlah Nak, kamu sudah siuman.”
“Ibu, Lara ada di mana?” Lara mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ruangan kecil bercat putih dengan nyala lampu terang, meja kecil berukuran persegi – dipenuhi buah-buahan, beberapa bungkusan plastik yang entah apa isi di dalamnya dan satu rangkaian bunga mawar – berada tepat di samping kanan tempat Lara terbaring. Kondisinya lemah.
Ibu Lara hanya menunduk sedih melihat keadaan putri semata wayangnya. Lalu tangan sang ibu menggenggam erat tangan kanan Lara, tapi ia menyambutnya tanpa tenaga. Sentuhan fisik diantara keduanya seolah mampu menjelaskan semuanya.
Sejanak, Lara memejamkan matanya. Sakit yang menjalar tubuhnya tengah ia rasakan. Aku benci ruangan serba putih ini, aku benci tabung infus yang meneteskan cairannya melalui selang ke tangan kananku, aku benci bau obat-obatan yang menusuk hidungku, aku benci perban putih yang membalut kepala, tangan kiriku, dan kedua kakiku, aku benci rumah sakit. Aku benci… aku benci keadaan lemah seperti ini…
“Lara, sabar ya Nak,” ibunya bersuara lirih. Dengan penuh hati-hati tangannya mengusap rambut panjang Lara. Lara memandang wajah ibunya lekat-lekat. Wajah yang teduh dan penuh dengan kesabaran. Ibu adalah perempuan kuat yang selalu mengajarkanku tentang kesabaran semenjak aku kecil. Sabar, kata yang terlalu sering kudengar dari Ibu. Waktu aku masih duduk di Sekolah Dasar seringkali teman-teman mengejekku karena keluargaku miskin. Sepatuku yang sudah robek, baju lusuh dan tas sekolah tambalan selalu jadi bahan ejekan. Pulang sekolah seringkali aku menangis dan mengadu pada Ibu. Ibu hanya mengusap rambutku dan berkata, “Sabar ya Nak, keadaan akan berubah kelak.” Begitu juga saat Bapak meninggal karena sakit di usiaku yang ke lima belas. Ketika aku ingin berbagi kebahagiaan untuk merayakan kelulusanku sebagai peraih nilai tertinggi di sekolahku, berita duka dari Bapak merenggut tawaku. Tanpa ada tangis, Ibu pun berkata padaku, “Sabar ya Nak, jangan bersedih… hidup dan mati ada di tangan Tuhan.”
“Ibu… ,” Lara mencoba untuk mengangkat kepalanya, tapi ibunya buru-buru mencegah dan menyuruh Lara berbaring lagi.
“Kamu baru saja siuman Nak, sudah dua malam kamu tidak sadarkan diri. Jangan buat Ibu semakin khawatir, kamu harus banyak istirahat, jangan paksakan untuk terlalu banyak gerak, makan teratur, minum obat teratur, dan….”
Lara memotong kalimat ibunya, “Jadi, Lara sudah dua hari di sini Bu?”
Ibu Lara memalingkan wajahnya, tidak tega menatap wajah putrinya dalam keadaan seperti ini.
“Bagaimana keadaan mas Nazim, Bu?” Pertanyaan yang ditakutkan ibu Lara, akhirnya terlontar juga dari mulut putrinya.
Peristiwa dua hari yang lalu. Lara mengingatnya. Dia telah resmi menjadi istri sah lelaki pilihan ibunya, Nazim Waluyo. Pukul sembilan pagi, Ijab kabul yang dilaksanakan di masjid At-Taqwa berlangsung khidmat. Sepulang dari masjid… Tidak. Aku tidak boleh berpikir maca-macam tentang sesuatu hal yang belum pasti terjadi. Lara mulai bermain-main dengan prasangka buruknya.
“Sabar ya Nak…,” suara ibu Lara seperti tertahan.
Sepulang dari masjid, mobil yang kami naiki mengalami kecelakaan. Ya Tuhan… kejadiannya begitu cepat. Saat mobil kami mendahului truk, tiba-tiba saja di depan kami ada mobil yang melaju kencang dan…
Dengan suara gemetar, ibu Lara melanjutkan kalimatnya, ”Hidup dan mati… berada di tangan Tuhan.”
Seperti mendapat pukulan keras, Lara semakin lunglai menghadapi kenyataan pahit. Tak terasa air matanya menetes. Kalimat yang baru saja diucapkan ibunya, menguak luka perih tujuh belas tahun silam – Lara menjadi anak yatim.
Lara harus tegar.
Pesta pernikahan yang jauh hari sudah disiapkan begitu matang oleh ibunya dan sahabatnya – Bintang, belum sempat ia rayakan. Jangankan merasakan honey moon, bersanding dipelaminan dan menyalami para tamu undangan pun tinggal angan belaka.
Sekali lagi, Lara harus tegar.
* * *
“Aku tidak sudi menikah dengan laki-laki asing pilihan Ibu yang baru saja kukenal. Mas Nazim bukanlah lelaki yang kuharapkan menjadi pendamping hidupku. Demi Tuhan, lebih baik aku hidup sendiri,” Lara berkata pada ibunya dengan sedikit berteriak.
“Bagaimana dengan janjimu pada Ibu, Nak?”
Desember tahun ini, Lara memang berjanji pada ibunya untuk menikah. Tapi bukan dengan lelaki pilihan ibunya, melainkan dengan Rendra – sosok lelaki sederhana yang memiliki mata berwarna coklat bening.
“Pamali bagi perempuan Jawa jika tidak segera menikah di usia cukup umur,” itulah kalimat yang seringkali dilontarkan ibunya Lara. Posisi Lara sebagai anak tunggal berusia tiga puluh dua tahun merasa terpojok.
“Ibu hanya ingin melihatmu bahagia, Nak.”
Lara sudah capek berdebat dengan ibunya mempermasalahkan pernikahan. Ibu dan anak yang sama-sama mempertahankan pendiriannya. Sebagai perempuan karir yang berhasil di bidangnya, Lara tidak akan sembarangan memilih calon pendamping hidupnya. Dia harus menemukan Mr. Right. Apa itu salah? Lara memiliki paras yang cantik, mewarisi mata yang indah dari ibunya, perawakannya pun ideal. Rambutnya panjang sepunggung – terawat. Fashionable dan performance-nya smart. Posisinya sebagai copywriter di salah satu biro periklanan ternama di Ibukota, menjadikan Lara sebagai perempuan metroseksual dengan gaya hidup glamor.
Berbeda dengan ibunya. Setelah sukses meniti karir di Jakarta, Lara memboyong ibunya dari kota kelahirannya – Kediri. Tinggal di area perumahan yang cukup besar, perabotan lengkap, dan dua helper. Bukannya senang, justru ibunya merasa tidak nyaman. Hingga Lara harus memperhentikan dua helper-nya. Ibunya mengerjakan semua pekerjaan rumah. Sebelum jam tujuh pagi, aroma khas dapur desa sudah mengepul.
Lara mengambil kunci mobilnya yang tadi ia letakkan di meja tengah. Berhambur pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun pada ibunya. Ia berjalan tergesa-gesa menuju mobilnya dan segera menstarternya, meninggalkan kepenatan. Ibunya sengaja tidak mencegah kepergian Lara. Ia tahu tempat peraduan putrinya itu – Bintang, teman kuliah di Jakarta sekaligus sahabatnya yang dianggap seperti keluarga sendiri. Bintang pula yang menjadi tokoh penting di belakang layar kesuksesan karir Lara.
“Kenapa? Kamu bertengkar lagi dengan ibumu?” tanya Bintang setelah Lara tiba di rumahnya. Lara menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tangah. Selang beberapa detik dia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya.
“Aku masih mengharapkan mas Rendra, Bin. Kamu tahu kan?” Lara memulai pembicaraannya.
“Sudahlah, lupakan saja Rendra. Kamu akan menunggunya sampai kapan?” Bintang membawakan secangkir teh hangat dan mengambil duduk di dekat Lara. “Minum dulu, biar pikiran jernih.”
Lara menggeleng pelan. Bintang menghela nafasnya. Ditaruhnya secangkir teh itu di meja dekat Lara.
“Lara,” Bintang menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. “Sudah satu bulan lebih Rendra menghilang tanpa ada kabar. Aku tidak tega melihatmu terus-terusan seperti ini. Aku mengenalmu sebagai sosok perempuan yang kuat, tapi kenapa kau sekarang membiarkan dirimu lemah hanya seorang laki-laki yang kurasa… dia tidak mencintaimu.”
“Mas Rendra mencintaiku,” sahut Lara.
“Lalu kenapa dia meninggalkanmu begitu saja?” Bintang menaikkan nada bicaranya.
Sahabatku Bintang, tidak mengertikah engkau bagaimana perasaanku?Aku juga tidak tahu kenapa. Aku telah terjatuh dalam cintanya. Wajahnya begitu sejuk. Saat aku menyandarkan tubuhku dalam dekapannya, kurasakan hangat tubuhnya memberikan ketenangan. Aku sangat menyukai mata coklatnya yang bening. Lesung pipinya saat ia tersenyum. Bisikan lembutnya seakan menghentikan aliran darahku. Ah, aku mencintai mas Rendra dari sudut mana pun. Tapi dimana dia sekarang? Aku sudah berkali-kali menghubungi nomor ponselnya, tapi tidak pernah aktif. Aku mencarinya di tempat kerja, surat cuti yang kudapatkan. Di rumah kontrakannya, tetangga bilang dia pulang ke Surabaya. Setelah aku telpon ke rumahnya, kakak perempuannya mengatakan mas Rendra tidak ada dirumah. Aneh, dia seperti tertelan bumi. Kenapa dia meninggalkanku secara misterius?
“Sebaiknya kamu menuruti apa kata ibumu,” Bintang membuyarkan lamunanku.
Lara menoleh pada Bintang, “Apa? Jadi kamu menyuruhku menikah dengan Nazim?”
“Apa yang kurang dari Nazim? Dia tampan, pengusaha sukses, lebih dewasa dari usianya yang masih muda, dan dia dari keluarga baik-baik.”
“Kenapa tidak kamu saja yang menikah dengan Nazim?” jawab Lara ketus.
“Ha..ha..,” Bintang tertawa. “Kamu ini lucu. Trus mau dikemanain mas Zainal? Berarti Rini punya ayah dua dong kalau aku menikah dengan Nazim.”
Lara sama sekali tidak menggubris guyonan Bintang. “Aku mau pulang saja. Kamu dan ibuku sama saja. Salam buat si kecil Rini.”
* * *
“Lara, kamu memikirkan apa, Nak?”
Lara menggeleng. “Lara pengen ketemu Bintang, Bu.”
“Selama dua hari, Bintang menemanimu di sini, Nak. Kemarin, sepulang sekolah si kecil Rini menyusul bersama ayahnya.”
Lara menyunggingkan senyum. Tapi tanpa disadari, air matanya kembali menetes. Ibunya tak kuasa menahan diri melihat putrinya begitu menderita. Lagi-lagi tangan lembutnya mengusap rambut Lara. “Kamu harus kuat ya, Nak?”
Bayangan Lara kembali menyibak kisah. Pelajaran tersulit baginya adalah melupakan peristiwa yang membekas di hati. Ya, Lara tidak mungkin bisa melupakan kecelakaan dua hari lalu yang membuatnya terbaring di ruang serba putih ini. Di hari pernikahannya itu, justru takdir merenggut nyawa suaminya.
Tuhan, mampukah aku menghadapi semua cobaan ini?
Hidup ini seperti teka-teki yang tidak akan pernah terpecahkan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok.* Lara memang berharap Rendra lah yang menjadi pendamping hidupnya. Benar kata pepatah, antara benci dan cinta tersekat lapisan yang sangat tipis. Kini, keadaannya menjadi terbalik. Pengkhianatan cinta terukir pedih di hari Lara. Kesabaran Lara untuk setia menunggu Rendra, berakhir kekecewaan yang dalam. Seminggu sebelum Nazim dan keluarganya datang melamar Lara, tiba-tiba saja Rendra muncul menemui Lara di rumahnya. Hampir tidak percaya, Lara seperti mimpi. Ingin rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya dan melompat kegirangan layaknya Rini ketika mendapat kado boneka Barbie dari Lara – di hari ulang tahunnya yang ke tujuh. Tanpa berbicara apa pun, Rendra memberikan sepucuk undangan berwarna hijau – warna favorit Lara. Undangan pernikahan Rendra dengan perempuan lain.
Lara harus tetap tegar.
Akhirnya Lara memutuskan untuk menerima lamaran Nazim. Apakah inii sebuah pilihan? Atau keterpaksaan? Entahlah…
Tekad Lara sudah bulat. Ia akan membuka hatinya untuk Nazim.
Tapi Lara harus berusaha lebih tegar.
Kini, Lara sudah tidak punya kesempatan lagi untuk belajar mencintaii suaminya…
* * *